Minggu, 09 Oktober 2011

Typologi Kepribadian Belajar; Konsumtif atau Produksi

Kepribadian adalah barang uniq dan tidak dapat dinilia seperti sekilo atau sejuta, tetapi lebih dapat dikenai kata sifat dengan “Rajin”, “Pandai” dan sebagainya. Meskipun para psikoterapis lebih condong menekankan pola –pola karakteristik individual dari kemampuan menyesuaikan.

Sebagai suatu bentuk unit yang terorganisir dan dinamis, kepribadian berkembang menyesuaikan dinamika lingkungan sejalan kehidupan individunya.

Meskipun Sigmund Freud bapak psikoanalisa para psikolog mengatakan kepribadian adalah integrasi id, ego dan superego, dengan balutan kesenangan-kesenangan erotis serta bertujuan akan naluri kehidupan dan kematian.

Berbagai respon –stimulus yang terbangun dari pola asuh dan interaksi lingkungan menjadikan pola tingkah laku terorganisir yang dapat diduga sebelumnya menjadi tempramen atau karakteristik yang uniq tersebut.

Teori Jung tentang ketidaksadaran rasial yang dapat menambah pemahaman orang mengenai ketidaksadaran individual/ dirinya dapat menjawab fenomena maraknya aksi terorisme.

Bila kepribadian dapat terbangun dari pola berulang dan interaksi social, sebenarnya ini merupakan proses belajar. Yaa, manusia bertype pembelajar. Ada yang menjelaskan bentuk belajar berulang tersebut adalah pola adaptapsi yang terbangun menjadi pengalaman dan karakter yang terbangun dari pola berulang.

Aliran teori kepribadian memandang kepribadian dengan mengabaikan aspek mental serta hanya melihat aspek fenomena terorganisir jasmani. Aspek mental ini yang menjadi dimensi sulit terukur; karena individu adalah uniq, dan berkarakteristik bahkan kembar identic pun.

Dengan norma dan kepercayaan yang terbangun melalui pranata social sebagai pengikat, tipologi manusia mulai sejak peradaban bumi ini mulai dikelompokkan hingga dipetakan, bahkan Jung hingga meneliti kepribadian bangsa-bangsa nenek moyang.

Mereka yang berada di wilayah kurva positif terkategorikan masuk di wilayah yang lebih dan mereka yang masuk dalam kurva negative adalah kelompok individu yang masuk di wilayah kurang. Kesemuanya diindetifikasikan kepada abnormalitas. Meskipun kadang penyesuaian alat tes, atau instrument itu sendiri untuk dapat dikatakan nol bias penelitian harus melewati serangkain uji normalitas dan tipologi karakteristik. Ini yang kadang terlewat pada uji dan penyesuaian instrument alat tes psikologi Indonesia.

Dengan ter-tipologikan kepribadian yang terbangun dari proses belajar juga membagi manusia berdasarkan minat; kecerdasan; bakat; dan perasaan pada proses pembentukan kepribadian.

Berdasarkan teori belajar; hal ini yang dapat mendefenisikan tipologi proses belajar individu. Dengan berbagai motif terdapat dengan stimulus harapan seperti; least action/ law of, (least effort) adalah dengan energy atau upaya yang sedikit. Tipologi manusia seperti ini adalah manusia pemanfaat, tanpa pernah mempunyai ketertarikan untuk proses belajar; cenderung pemanfaat atau tipologi otrokasi, meski hal ini juga perlu melihat hirarki pada tipologi social masyarakat

Sehingga yang menurut Gestalt membagi belajar kedalam 1; Pengalaman tilikan/ insight, 2; Pembelajaran bermakna 3; Prilaku bertujuan; 4; Prinsip ruang hidup; 5 ; Transfer dalam belajar. Nah kadang dalam proses belajar manusia dominan padal cluster prilaku bertujuan, dan meninggalkan pembelajaran bermakna.
Menarik sekali bila seorang individu dapat menjalani proses belajar berdasarkan insight. Insight pada terminology timur dikenal sebagai ilham atau wangsit.

Studi kasus; Beberapa individu mempunyai karakter typology user (konsumtif) dan penghasil/ pengembang (produsen). Seorang pembelajar sejati dan bermakna akan mencoba mencari tahu kebenaran sejati (philosophy of science); individu seperti ini akan mencoba mencari tahu kronologi fenomena yang terjadi serta treatment penyelesaiaannya. Sehingga meskipun diawal dia mencoba dengan berbagai refensi; dengan pengetahuan dan pengalaman berulang akan menjadikan makna baru bagi individu tersebut. Pada umumnya karakteristik pencaritahu dan pengembang cocok pada wilayah produsen, pada tipologi masyarakat.

Dengan tanpa melihat factor motivasi; bakat dan kecerdasan terdapat juga tipologi individu umum yang dominan yang lebih banyak di Indonesia ini. Umumnya tipologi ini juga berkarakter permisif, tidak seperti karakter inovatif pada wilayah produsen. Tipologi user lebih mementingkan fungsi dan kegunaan, tanpa melihat makna; terkadang muncul pernyataan “memang seharusnya juga rusak, karena memang sudah waktunya”, selain statement permisif ini juga mencirikan kesulitan bernegosiasi.

Pada wilayah produsen, tentunya akan mencari tahu, serta tetap berusaha mempertahankan makna, bahkan kegunaan barang.

Dewasa ini, perlu ditambah energy bersama akan menambah makna dan kebermanfaat yang dilakukan, daripada sekedar menambah nilai. Menambah nilai adalah pendekatan ekonomis. Melihat semua hal bisa di komodifikasi.

Makna kehidupan akan menjadi jelas diantara wilayah user dan produsen, meski keduanya sama-sama tidak akan terpuaskan secara kebermanfaatan.

Meski terdapat banyak instrument yang dapat digunakan untuk membedakan kepribadian, anda berada digolongan wilayah yang mana, tetapi tentunya anda dapat menjawab sendiri pertanyaan tersebut, masuk diwilayah mana anda, pribadi konsumtif atau produktif, tanpa harus melewati serangkaian instrument alat tes kepribadian. Hal tersebut juga tidak terlepas dari instrument motivasi belajar, bakat, kecerdasan dan minat. Bahkan Goldstein menambahkan dengan intrumen kecerdasan emosional. [ tulisan satu]

1 komentar:

Rahmawati mengatakan...

Selamat jalan agung, sayang akhir tahun lalu kita gak sempat jalan bareng...
sudah bisa lari-lari lagi agung?
selalu ingat kata2 kamu "peluk dan cium untuk semangatmu hari ini"
masih gak percaya kalau kamu udah pergi..
with billion luv n kisses