Selasa, 15 Desember 2009

Sandal; Potret Kehidupan Rumah Tangga

Berbagai jenis karakter pemilik dan pengguna sandal pada keset sebuah rumah, dapat mencerminkan sebuah kondisi di dalam rumah tersebut, baik anggota-anggota keluarganya, bahkan lingkungan yang dikelola oleh keluarga tersebut. Sama halnya seperti kondisi pada umumnya sebuah keluarga dalam sebuah rumah tangga. Sebuah kondisi rumah tangga dengan seorang pemimpin keluarga serta didukung anggota keluarga lain dan beberapa infrastruktur penunjang lainnya serta ditambah dengan aturan-aturan dan norma-norma serta nilai-nilai tatanan sebuah aturan rumah tangga. Berbagai kondisi permasalahan kerap terjadi di dalam keluarga, karena keragaman kebutuhan, latar belakang budaya serta cara pemenuhan dari kesejahteraan anggota per anggota keluarga itu sendiri untuk pribadi dan keluarganya serta saudara-saudaranya.

Kondisi umumnya seeh anggota keluarga akan menurut seperti apa kata pemimpin keluarga rumah tersebut. Yeah seperti komandan pada anak buah. Anak buah akan melakukan apa yang di instruksikan komandan yang mereka pilih (heaaah komandan dipilih???). Begitulah seperti kepala rumah tangga kita saat ini melalui mekanisme pemilihan kepala rumah tangga setiap lima tahun sekali. Demikian juga kebijakan dan aturan yang mengikutinya tergantung pemimpinnya dan sistem yang akan dikelolanya untuk menjalankan kelembagaan rumah tangga dan dalam pencapaian tujuan hidup berkeluarga dan berumah tangga.

Sehingga diharapkan melalui instruksi kepala rumah tangga tersebut dapat memberikan mamfaat kepada seluruh anggota keluarga, karena pada kesemuanya akan kembali kepada tujuan kelembagaan keluarga atau rumah tangga itu sendiri, yaitu mensejahterakan kehidupan  anggota rumah tangga. Semua berjalan dengan baik karena semua yang diatur pemimpin dapat memberikan yang terbaik untuk anggota keluarga, dan anggota keluarga juga memberikan yang terbaik untuk rumah tersebut. Tujuan bangunan dan tatanan rumah tersebut dapat segera tercipta, yaitu anggota keluarga yang adil dan makmur.

Meskipun demikian, merupakan anugerah bila anggota keluarga rumah tangga tersebut terdiri dari berbagai suku / etnis yang tersebar diseluruh penjuru kepulauan Indonsia ini. Kondisi seperti ini merupakan anugerah yang tidak diraasakan oleh rumah-rumah lain di dunia ini, termasuk kekayaan keanekaragaman hayati-nya. Karena itu rumah kita pernah terjajah selama 350 tahun. Bahkan hingga kini,  penjajahan itu ada, bahkan saat ini menjajah moral penghuni rumah itu sendiri.  Inilah yang paling bermasalah. Dengan beragamnya latar belakang dan budaya itu akan memperlihatkan kebutuhan yang berbeda, sehingga seperti pemilik dan warna sandal gambar selanjutnya ini anggota rumah tangga tersebut. Berbagai macam arah sandal yang ditinggalkan pemiliknya masuk kedalam rumah. Ada yang ingin didepan, ada yang ingin ditengah, di pinggir saja, bahkan dibagian ekor saja. Tetapi sebenarnya arahnya tetap saja, pemiliknya masuk kedalam rumah meninggalkan sandalnya dikeset. Karena mereka berharap tujuan pribadi/ dirinya dengan masuknya beliau terdapat didalam tujuan dibangunnya bangunan rumah tersebut beserta tata nilai dan aturan serta norma yang diharapkan dapat membantu mencapai kondisi yang diharapkan dari kelembagaan keluarga tersebut.
 
Pemenuhan kebutuhan akan kesejahteraan tersebut sangatlah penting karena berhubungan langsung dengan kepastian hidup, sehingga kadang-kadang anggota keluarga rumah menghalalkan segala cara untuk meperoleh kepastian akan kesejahteraan itu meskipun didalam rumah itu sendiri. Terkadang dengan cara yang paling ekstrem hingga manuver berbalik untuk mengelabui siapa yang dianggap dapat menghalangi tujuannya. Tindih, terkam, makan memakan sudah menjadi modus operandi umum. Bahkan dengan membuat aturan main yang ambigu dan tidak pernah jelas menjadi mainan profesionalisme para anggota keluarga yang pintar, yang artinya telah membiasa dan budaya. Sehingga bila terlihat nyata, malah dianggap wajar. Karena mekanisme dan infrastrukturnya permainan-permainan kotor, serta kompromi politik telah dipersiapkan dengan matang tentunya dengan sepengetahuan pemimpin rumah tangga.  Ada saja yang anggota keluarga yang dikambing hitamkan dari sesuatu hal yang dibuat untuk ditutup-tutupi karena mekanisme permainan dan infrastruktur perangkatnya semakin menjadi hal yang dirasakan tidak menjadi biasa dan menjadi fenomena menarik yang segera ingin diungkap kelanjutan dan penyelesaiannya yang tidak akan pernah tuntas.
 

Akhirnya beberapa anggota keluarga lenyap, atau meninggalkan rumah, karena rumah tidak sesuai lagi dengan keinginannya.  Ada yang tidak kuat bertahan dan lenyap, ada yang pindah rumah ke rumah tetangga. Baik dengan jalur resmi maupun yang gelap. Ada yang tetap bertahan meskipun dengan  keterpurukan dan ketidakberdayaan.
Meskipun kadang dengan terbalik dan jungkir balik pemilik sandal tersebut anggota rumah tersebut harus masuk kedalam rumah, akan tetapi tetap saja rumah tersebut punya peraturan yang harus tetap diikuti. Berbagai cara harus diikuti agar dipandang manusiawi untuk melakukan pembenaran dalam pemenuhan kesejahteraan. Bangunan kesejahteraan rumah tangga diruntuhkan oleh moralitas dari para anggota keluarga itu sendiri. Bahkan kehidupan akrobatik yang jungkir balik dan ekstrem para anggota keluarga sekalipun dipandang sebagai mekanisme pertahanan kehidupan, sehingga segala sesuatu hal dikatakan dapat dimengerti dan lumrah atau dengan kata lain "itu sudah menjadi hal yang biasa".
Dari dialog dan dinamika serta perguncangan yang timbul menimbulkan nilai, moral dan etika yang baru akan kebiasan pemenuhan kebutuhan yang ekstrem dan akrobatik sekalipun tadi. Semua hal dipandang lumrah, hal ini terbangun tantanan peradababan baru yang baik atau sekedar dari kompromi-kompromi dari durasi kehidupan para anggota keluarga rumah itu sendiri. Serta terkadang intervensi kepentingan tetangga yang mau mendapatkan mamfaat dari situasi yang tidak menguntungkan untuk keluarga itu sendiri.
 
Sehingga kehilangan berapa generasi anggota keluarga yang masih satu saudara saja dapat juga dikatakan sebagai sesuatu hal yang lumrah. "Itukan seleksi alam?", "Itu kan sudah diprediksi", atau "Itukan sudah diatur?" sampai-sampai yang tidak mengertipun mengatakan "Itukan lumrah?".  Lumrah??? Bukan kan kondisi lumrah merupakan kesepakatan dan kompromi serta nilai baru???


Akhirnya tercipatalah tatanan sosial baru di keluarga/ rumah tangga sendal jepit ini, sebuah tatanan dengan nama "Chaos Nation". Sebuah tatanan dengan sistem yang dijaga dan dibentuk oleh kepala rumah tangga, yang katanya demokrat. Karena berusaha menampung dan mengakomodir semua aspirasi anggota keluarga.  Lengkapnya 'demokrat-kompromi "to" Chaos Nation'. Bahkan anak cucu generasi keluarga rumah tangga telah dipersiapkan untuk menanggung beban generasi dan peradaban pendahulunya. Bahkan hutang sampai dibawa mati. Telah kupersiapkan anak cucu ku untuk menerima hutang beban hidupkoe yang saat ini. Manusia aja dikorbankan apalagi rumah dan  lingkungan???

Nah, sandal-sandal tersebut diatas adalah cerminan pemiliknya yang merupakan penghuni sebuah rumah. Dan semoga kondisi rumah kita (Indonesia) tidak seperti yang kondisi rumah tangga tersebut.

Sandal sandal tersebut merupakan produk hiasan daur ulang dari sampah plastik bertebaran diseputaran kota Bogor. Materinya dari plastik kantong bekas dan besi gantungan. Produk ini selain berisi pesan penyelamatan lingkungan Kota Bogor, juga berusaha menimbulkan industry-industry kreatif di Kota Bogor. Produk ini dijual dengan harga Rp 10.000 /item. Semua pemasukan hasil penjualan digunakan untuk terus mendukung gerakan konservasi lingkungan dan semangat menumbuhkan industri-industri kreatif di Kota Bogor.
Produk ini hasil inisiasi KPC didukung atau bekerjasama dengan Unite. Untuk pemesanan dan Informasi lebih lanjut dapat menghubungi Kapiten Hari the Blackend di (hp) 08561235298. Kedapan KPC dan Unite akan terus mengembangkan produk yang lebih mempunyai bermamfaat secara fungsi dalam kehidupan ini.

Mari kita berbuat dan kembali menata lingkungan kehidupan yang semakin rusak dan membangun rumah kita bersama agar seluruh anggota dapat merasa sejahtera, aman dan memperoleh keadilan rumah tangga yang hakiki.

Kamis, 27 Agustus 2009

Lepas Penat di Pingir Kali, Pasti Stress Kemudian Hari


Sungguh nyaman di sore hari merangkul malam sambil menikmati suasana kota
dengan berada di pinggir sungai melalui kegiatan bercengkrama dengan sanak-saudara
dan masyarakat kota lainnya di di bumi Paser Tanah Grogot.

Kegiatan sore di Grogot dapat dilewati dengan melakukan aktivitas hobi memancing dan bermain dengan anak di ruang publik kecamatan Grogot. Selain itu tak lupa kawasan publik seperti ini menjadi ajang mencari pasangan dan teman. Asik tenan looh !!!
Ruang publik yang dibangun di DAS (daerah aliran sungai) Kendilo Kecamatan Tanah Grogot Kabupaten Paser Kalimantan Timur ini menyediakan berbagai fasilitas-fasilitas umum dan sosial untuk warganya agar dapat menikmati (menghargai) sungai yang tersedia dengan dengan menjadikan DAS sebagai ruang interaksi sosial.
Pemda setempat membangun fasilitas-fasilitas umum untuk interaksi warga seperti; tempat duduk-duduk; fasilitas bermain anak; dan tak lupa tempat sampah disekitar lokasi ruang publik tersebut.

Warga yang mempunyai hobi memancing tidak lupa untuk ikut bersama merasakan fasilitas
publik tersebut untuk melakukan aktivitas kesenangannya.
Sungguh nyaman falisitas ini, apalagi bila terdapat di kota-kota lain di Indonesia.

Tapi sungguh tragis dan diluar dugaan, nyana tak dinyana ketika saya jalan-jalan ke desa Muser kecamatan Muara Samu pada Kabupaten yang sama ternyata sungai Kandilo berhulu disana. Saat ini disekitar hulu sungai tersebut tepatnya desa muser telah dikelilingi oleh perkebunan-perkebunan besar kelapa sawit.
Kelapa sawit yang merupakan tanaman asli daerah gurun benua Afrika sana ditengarai telah merusak daerah-daerah tangkapan air dan sumber-sumber mata air.
Berpuluh dan beribu mata air di daerah hulu sungai Kandilo telah hilang akibat perkebunan sawit.
Tidak hanya itu penebangan hutan liar dan pengrusakan DAS sepanjang hulu sungai Kandilo telah terjadi dan hingga saat ini masih terus berlangsung.




Hal tersebut akan mengurangi debit air sungai dengan hilangnya sumber mata air dan daerah-daerah tangkapan air. Sehingga mamfaat sungai Kandilo yang saat ini masih dinikmati oleh sebagian besar masyarakat terutama daerah Tanah Grogot akan semakit pudar dan musnah.
Kedepan hari (mungkin tahun depan) sungai Kendilo yang dapat dinikmati mamfaatnya di daerah hilir (Tanah Grogot) dengan pemandangan keseharian masyarakat yang menikmati mamfaat sungai akan semakin hilang dan pupus.
Siapkah masyarakat kita menerima itu? Tunggu saja jawabannya esok tahun bila tidak percaya!

Kamis, 13 Agustus 2009

1000 CIUMAN UNTUK ISTRI TERCINTA


Saat ini jaman serba susah. Harga BBM naik, akibatnya terjadi PHK di
berbagai perusahaan. Salah satu yang terkena PHK adalah Paijo.
Bulan ini ia tidak bisa lagi mengirim uang untuk istrinya di kampung
halaman. Ia hanya bisa mengirim surat. Isinya demikian:
Istriku Tercinta,
Maafkan kanda sayang, bulan ini Kanda tidak bisa mengirim uang untuk
kebutuhan keluarga di rumah. Kanda hanya bisa mengirimmu 1000 ciuman.

Paling cinta,
Kanda Paijo

Seminggu kemudian Paijo mendapat surat balasan dari istri tercintanya:

Kanda Paijo tersayang,

Terima kasih atas kiriman 1000 ciumanmu. Untuk bulan ini Dinda akan
menyampaikan laporan pengeluaran keluarga :

Tukang minyak bersedia menerima 2 ciuman setiap kali membeli 5 liter
minyak tanah.
Tukang listrik mau dibayar dengan 4 ciuman per tanggal 10 setiap bulannya.
Pemilik kontrakan rumah mau dibayar cicil dengan 3 x ciuman setiap harinya.

Engkoh pemilik toko bahan makanan tidak mau dibayar pakai ciuman. Ia
maunya dibayar dengan yang lain.. Ya terpaksa Dinda berikan saja.

Hal yang sama juga Dinda berikan buat kepala sekolah dan gurunya si Udin
yang sudah 3 bulan nunggak uang sekolah..

Besok Dinda mau ke pegadaian untuk tukerin 200 ciuman dengan uang tunai,
karena yang punya pegadaian sudah bersedia menukarkan 200 ciuman +
bayaran lainnya dengan uang 650ribu, lumayan buat ongkos sebulan.

Keperluan pribadi Dinda bulan ini mencapai 50 ciuman. Kanda tersayang..
bulan ini Dinda merasa jadi orang yang paling kaya di kampung, karena
sekarang Dinda memberikan piutang ciuman ke banyak pemuda di kampung
kita dan siap ditukar kapan pun Dinda butuhkan.

Kanda, dari kanda masih tersisa 125 ciuman, apakah kanda punya ide? Atau
saya tabung saja ya?

Paling sayang,
dari Dinda seorang.

... Gedubrak!! Paijo pun Pingsan.


....dari milist tetangga..

Kamis, 06 Agustus 2009

Media Penghakiman Massa (KPI Mandul)

Tayangan SCTV yang hingga tanggal 4/08/2009 pada jam prime-time (19:00 s/d 20:30) dengan sponsor minuman “lemon tea” merupakan media baru sebagai penghakiman public terhadap prilaku social yang terjadi di masyarakat. Sungguh diluar kebiasaan etika penyiaran, dimana media TV digunakan sebagai media penghakiman prilaku asusila dan penghakiman norma yang terjadi di masyarakat. Sedangkan pada jam-jam tersebut masih terdapat anak dibawah umur menonton tayangan itu. Sungguh tidak mendidik dan sangat tidak bermoral.
Pada acara tersebut, ditampilkan seorang pemuda yang telah menghamili seorang pacar –nya dan pacar tersebut telah tidur dengan seorang pemuda lain yang ternyata sedang melakukan perselingkuhan dari calon istrinya (pacarnya saat itu). Dan pacar nya tersebut merupakan teman dekat dari gadis yang berselingkuh dengan sang pacar. K ejadian-kejadian ini dilengkapi bukti-bukti rekaman video, telpon dengan narasumber dan saksi serta komentar-komentar audience di studio rekaman tempat acara tersebut serta disiarkan di TV.
Pada acara yang disiarkan secara nasional ini sang mc acara menanyakan kepada si gadis, siapa yang telah menghamilinya hingga usia kandungannya berusia 2 bulan. Dan didepan public si gadis tersebut menunjuk hidung pemuda yang sedang berselingkuh dengannya, bahwa dia adalah ayah dari anak yang berada didalam kandungannya. Tetapi si pemuda tersebut mengaku baru kenal dengan gadis tersebut baru sebulan belakangan terakhir. Sehingga sungguh tidak mungkin hal tersebut terjadi. Akhirnya didatangkanlah pemuda yang merupakan pacar asli dari gadis tersebut.
Didepan public pemuda tersebut diminta untuk mengakui bahwa anak dalam kandungan gadis tersebut merupakan anak-nya. Pemuda tersebut mengakuinya, tetapi gadis tersebut mengaku tidak mengenali pemuda yang telah mengaku telah menghamili gadis tersebut, sungguh merupakan tayangan tidak mendidik dan bermoral. Akhirnya gadis tersebut tersedu-sedan meratapi nasibnya didepan audience studio SCTV disaksikan jutaan pemirsa, termasuk para pemirsa dibawah umur. Di depan public mc meminta si pemuda untuk bertanggung jawab atas kehamilan gadis tersebut, dan langsung saja pemuda tersebut menyatakan bersedia bertanggung jawab. Dan pemuda yang satu lagi yang sedang mempersiapkan pernikahan dengan pacarnya tetapi diketahui berdasarkan acara ini ia telah berselingkuh dengan gadis yang tengah hamil 2 bulan tersebut tersipu malu tidak tahu diri. Dan gadis yang akan dinikahinya mengaku sambil menangis tersedu sedan akan memikirkan kembali rencana pernihahannya dengan pemuda yang melakukan perselingkuhan tersebut. Sungguh SCTV seperti pengadilan agama yang tengah mengadili sebuah kasus asusila yang terjadi di masyarakat.
Sungguh bila Negara kita ini memiliki KPI, komisi penyiaran Indonesia (Negara) yang yang katanya independent, ternyata tidak dapat menjaga mutu siaran media penyiaran Indonesia yang berkembang saat ini. Siaran yang tidak mendidik secara moral seperti ini hingga bisa tayang berkali-kali. Sedangkan prilaku latah yang muncul pada tayangan “bukan empat mata” di Trans-TV berkali-kali di bredel hingga tidak boleh tayang. Terkesan KPI mempunyai kecenderungan dapat dipolitisi, entah lebih jelasnya seperti apa buktinya, tapi buktinya sangat jelas bukan? KPI yang mandul!

Senin, 13 Juli 2009

Perbandingan Etika Lingkungan Binatang


Membuang kotoran memang selayaknya di tempat yang telah
disepakati untuk menampung kotoran tersebut dan terlebih karena dipahami.
Contohnya septik-tank, penampungan limbah tailing (bekas galian).
Karena memang telah menjadi kesepakatan dari kesepemahaman bersama bahwa
limbah/ kotoran tersebut tempatnya harus dilokalisasi dan kemudian
di olah/ perlakukan / dimuliakan untuk dapat digunakan kembali
(recycle treatment).

Kearifan lokal pemuliaan mata air bangsa Indonesia tidak
menjadikan mata air sebagai tempat mandi atau sekedar mencuci
muka atau mencuci peralatan pendukung primer hidup manusia.
Biasanya dari mata air, dibuatkan saluran selanjutnya yang
dapat menampung air tersebut. Setelah itu air dialirkan kembali
kepengguna berdasarkan motif kebutuhannya.

Beberapa spesies binatang, kecuali yang hidup di lingkungan air
atau dua lingkungan yaitu air dan darat, menjadikan air sebagai
sumber penghidupan. Binatang darat menjadikan air untuk mencari
sumber-sumber makanan dan minum. Binatang darat tidak membuang
kotoran mereka pada sungai. mereka lebih sering membuat lobang
atau menutupi kotoran mereka dengan pasir ( kucing dan anjing).
Binatang menghargai air dan sungai sebagai sumber penghidupan mereka.

Hal tersebut berbeda dengan prilaku masyarakat indonesia pada
umumnya. Perumahan masyarakat banyak yang membelakangi dan didirikan pada daerah sepadan atau merusak sungai sungai. Kotoran dari kamar mandi dan dapur mengarah pembuangan akhir pada sungai tanpa ada perlakuan pemuliaan terhadap lingkungan terlebih dahulu. prilaku menggunakan / mengakses sungai langsung tanpa membuat saluran guna mekanisme pemamfaat tidak menjadi budaya bernilai konservasi di Indonesia. Selain masih terdapatnya prilaku masyarakat yang membuang hajat/ kotoran langsung pada air disungai (buang kotoran padat dan cair, mencuci), pembuatan MCK dipinggir sungai yang tidak mengindahkan etika lingkungan juga dianggap sebagai pemicu budaya merusak air sebagai unsur kehidupan utama yang kita pahami bersama.

Padahal pemamfaatan air sebagai media pengucapan syukur
(ibadah) dapat menjadi ukuran terhadap pemuliaan tersebut.
Contohnya pada budaya agama Islam. Tradisi menyucikan diri
sebelum menghadap yang Maha Kuasa dengan menyucikan dengan
ritual wudhu adalah hal terdekat yang dapat dijadikan ukuran
pendekatan agama untuk memuliakan air. Karena sebelum pelaku
ibadah tersebut menyucikan diri menggunakan media air yang
dianggap dapat membasuh atau membersihkan, air yang akan
digunakan untuk menyucikan tersebut harus-lah terlebih dahulu
suci (bersih tidak berwarna dan berbau).

Namun hal tersebut tidak menjadi pembelajaran kebiasaan manusia untuk memuliakan air-air lain, demikian halnya dengan sungai sebagai pengantar air tersebut. Padahal telah berabad-abad pembelajaran pemuliaan sumberdaya air tersubut masuk ke Indonesia.

Bila manusia dibandingkan dengan kucing dan anjing yang merupakan binatang. Ternyata kedua mahluk tersebut lebih dapat dikatakan bisa memuliakan air dan sungai sebagai sumber kehidupan. Kucing dan anjing lebih memanfaatkan air dan sungai sebagai sumber air minum, makanan dan cuci, bukan sebagai tempat membuang kotoran. Terus memang manusia mana yang hingga saat ini dapat mengajari bagaimana binatang tersebut dapat memuliakan sungai bersama air-nya?